Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

Nasional33 Dilihat

CILACAP || Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengapresiasi transformasi kawasan Pemasyarakatan Nusakambangan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian warga binaan.

 

Apresiasi tersebut disampaikan Titiek saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, Sabtu (20/6/2026).

 

Dalam kunjungan itu, rombongan meninjau berbagai program pembinaan dan pemberdayaan yang dijalankan di kawasan pemasyarakatan, mulai dari Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA), sektor pertanian dan peternakan, produksi pupuk organik, Balai Latihan Kerja (BLK) konveksi, pengolahan sampah, budidaya perikanan, tambak udang vaname, hingga budidaya sidat.

 

“Atas nama Komisi IV, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri dan jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” kata Titiek.

 

Menurut dia, Nusakambangan yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi telah menunjukkan perubahan signifikan menjadi kawasan produktif yang mampu menghasilkan berbagai komoditas pangan dan produk bernilai ekonomi.

 

“Nusakambangan yang selama ini kita dengar selalu terkesan seram, bayangannya seperti Alcatraz. Namun setelah datang langsung ke sini, ternyata kawasan ini sangat ramah dan mampu menghasilkan banyak produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto mengatakan, berbagai masukan dan arahan dari Komisi IV DPR RI akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat program-program yang telah berjalan.

 

Menurutnya, jajaran pemasyarakatan terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang belum produktif di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.

 

“Kami menerima berbagai evaluasi dan arahan yang akan segera ditindaklanjuti, termasuk upaya perbaikan terhadap program yang sudah berjalan. Seluruh lapas dan rutan kami dorong untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia guna mendukung ketahanan pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan internal,” ujar Agus.

 

Ia menjelaskan, saat ini kawasan Nusakambangan telah memanfaatkan sekitar 135 hektare lahan produktif. Program tersebut melibatkan ratusan warga binaan dalam berbagai sektor usaha, seperti pertanian, peternakan, perikanan, konveksi, pengolahan sampah, serta budidaya udang dan sidat.

 

Transformasi Nusakambangan menjadi sentra ketahanan pangan dan pusat pembinaan kemandirian warga binaan dinilai sebagai wujud komitmen Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *