Tangerang,penanusantara.co.id – Pemerintah Indonesia mengambil langkah baru dengan mengurangi jadwal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi lima hari dalam satu minggu. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi efisiensi anggaran negara yang diproyeksikan mampu menghemat hingga Rp 20 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut perubahan jadwal MBG ini hanya berlaku pada hari aktif sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional sekaligus memastikan pengelolaan anggaran berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Dalam artian efensiensi anggaran yang pemerintah sampaikan, kata Dodi Sambodi S.Pd.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap fokus pada daerah prioritas
Meskipun terjadi pengurangan jadwal, pemerintah memastikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tetap difokuskan pada wilayah-wilayah prioritas, seperti:
Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)
Wilayah dengan angka stunting tinggi
Kebijakan ini bertujuan agar bantuan gizi tetap tepat sasaran, terutama bagi anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan nutrisi tambahan untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Perubahan durasi dari yang semula dipukul rata enam hari menjadi menyesuaikan kehadiran siswa merupakan bagian dari strategi penyaluran.
“Perubahan Pengurangan penyaluran disesuaikan dengn hadirnya siswa dan masa belajar aktif. Wacana perubahan ini baru di mulai sejak awal bulan April kemarin, tambah Dodi Sambodi ,S.Pd. lagi, Senin (16/04/2026).
Skema penyaluran MBG tetap berbasis pada makanan segar siap santap yang dikirimkan langsung kepada penerima manfaat.
Data penerima telah terintegrasi, mulai hingga santri di pondok pesantren dan siswa di sekolah masing-masing.
Terkait isu pemangkasan hari, pihak MBG menyebut bahwa khusus untuk anak sekolah, MBG akan disalurkan selama mereka hadir di sekolah.
“Khusus untuk anak sekolah, MBG akan disalurkan bila mereka hadir di sekolah. Jika sekolah lima hari maka mereka akan mendapatkan MBG lima hari, sementara jika ada sekolah yang enam hari maka MBG diberikan enam hari,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini mayoritas semua dapur MBG di Kab. Tangerang telah menerapkan sistem lima hari sekolah.
Dengan demikian, penyaluran MBG secara otomatis menyesuaikan la hari belajar tersebut.
“Berdasarkan data yang ada, mayoritas lama sekolah lima hari. Jika libur, maka MBG berhenti disalurkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, pihak MBG mengatakan kondisi ini berbeda dengan kebijakan pada 2025, di mana hampir semua sekolah mendapatkan jatah enam hari, termasuk paket makanan yang bisa dibawa pulang pada hari Jumat.
“2025 semua sekolah kan enam hari. Jumat selain mendapat makanan segar, juga untuk dibawa pulang. Tahun 2026 ini basis kita makanan segar. Jadi yang sekolah lima hari mendapat MBG lima hari, yang enam hari mendapat enam hari. Mayoritas sekolah lima hari,” tegasnya.
(Estty)







